Halaman


counters

Kamis, 09 Mei 2013

MACAM-MACAM SAJA



Pengertian / Arti Sajak

3.1      Sajak
Sajak adalah persamaan bunyi. Persamaan yang terdapat pada kalimat atau perkataan, di awal, di tengah, dan di akhir perkataan. Walaupun sajak bukan menjadi syarat khusus bagi sesuatu puisi lama, tetapi pengaruhnya sangat mengikat kepada baentukdan pilihan kata dalam puisi itu. Sajak terbagi enam jenis;
a.       Sajak Awal
Ialah persamaan bunyi yang terdaspat pada awal kalimat, seperti pantun berikut:
Kalau tidak karena bulan
Tidaklah bintang meninggi hari
Kalau tidak karena tuan
Tidaklah saya sampai kemari

b.      Sajak Tengah
Persamaan yang terdapat di tengan kalimat, seperti:
Guruh petus penuba limbat
Ikan lumba berenang-renang
Tujuh ratus jadikan ubat
Badan berjumpa maka senang
                                                                                    (Dr. mandahk)
c.       Sajak Akhir
Sajak yang terdapat pada akhir kalimat. Sajak ini terdapat hamper pada segala puisi lama dan puisi baru. Misalnya:
Berdiri aku di tepi pantai
Memandang lepas ke tengah laut
Ombak pulang peceh berderai
Keribaan pasar rindu berpaut
                                                                                    (Amir Hamzah)
d.      Asonansi
Persamaan bunyi hujruf hidup (voksal) yang terdapat dalam perkataan atau kalimat. Misalnya:
Kini kami bertikai pangkai
Diantara dua mana mutiara
Jauhari ahli lalai menilai
Lengahlangsung melewat abad
e.       Sejak Sempurna
Dalam memilih perkataan untuk mencapai perasamaan bunyi, tiadalah selalu bunyi itu jatuh yang sempurna pada suara yang sama, ada yang mirip dan ada yang benar-benar tepat. Yang tepat disebut sajak sempurna:
Gabak hari awan pun mendung
Pandan terkulai menderita
Sejakmati ayah kandung
Makan berrhurai air mata
f.       Sajak Tak Sempurna
Hanya bunyinya saja yang hamper bersamaan, seperti:
Uncang buruk tak tertali
Kian kemari bergantung-gantung
Bujang buruk tak berbini
Kian kemari meraung-raung



sajak awamatra
tidak terikat pola rima atau pola normatif lain
sajak awarima
sajak yg tidak berima
sajak bebas
sajak yg baitnya tidak terikat pd jumlah larik tertentu serta jumlah kata setiap lariknya dan iramanya tidak tetap
sajak delapan seuntai
sajak yg terdiri atas delapan larik dl satu bait; oktaf
sajak dolanan
sajak nyanyian anak-anak
sajak dua seuntai
sajak yg terdiri atas dua larik dl satu bait; distikon
sajak empat seuntai
sajak yg terdiri atas empat larik dl satu bait; kuatren
sajak enam seuntai
sajak yg terdiri atas enam larik dl satu bait; sekstet
sajak gema
sajak yg suku kata akhir lariknya disebut (digemakan) dl larik berikutnya dan boleh dng arti yg lain: -- kanak-kanak sajak yg termasuk tradisi lisan dl kesusastraan, terdiri atas sejumlah larik yg isinya mencakup soal berhitung, permainan, teka-teki, pendidikan, dsb, umumnya disampaikan dng cara dinyanyikan
sajak kembar
sajak yg disusun berdasarkan letak kata-kata dl larik, larik pertama bersajak dng larik kedua, dan larik ketiga bersajak dng larik keempat
sajak kisahan
sajak yg melukiskan cerita secara terperinci
sajak lima seuntai
sajak yg terdiri atas lima larik dl satu bait; kuin
sajak main-main
sajak ringan yg sangat mengasyikkan, iramanya menarik krn gagasannya yg mengada-ada; puisi mbeling -- mutlak sajak yg disusun berdasarkan bunyi, dan bunyi yg sama terdapat pd seluruh kata
sajak patah
sajak yg disusun berdasarkan letak kata-kata dl baris-baris, dan dl bait sajak tsb ada baris-baris yg tak sama sajaknya dng bait yg lain
sajak peristiwa
sajak yg digubah berkenaan dng peristiwa, kejadian khusus atau perayaan, sifatnya ringan atau serius
sajak prosa
sajak yg digubah dl bentuk prosa, tetapi tetap dicirikan oleh unsur-unsur puisi, spt irama yg teratur, majas, rima (dalam), asonansi, konsonansi, dan citraan
sajak rangkai
sajak yg disusun berdasarkan letak kata dl larik-larik, kata yg bersajak terletak pada setiap kata terakhir secara berturut-turut
sajak ringan
sajak yg menghibur atau menggembirakan dng ciri khas kepetahan, ketepatan, serta kesempurnaan bentuk
sajak sejajar
sajak yg disusun berdasarkan letak kata dl larik-larik, dan apabila sepatah kata dipakai, berturut-turut dipakai pula dl tiap larik
sajak sempurna
sajak yg disusun berdasarkan bunyi dan bunyi yg sama
sajak sindiran
sajak yg mengandung pernyataan yg menimbulkan tawa, tetapi juga dapat menimbulkan kemarahan, isinya protes sosial dng cara mengejek habis-habisan
sajak suku kata
sajak yg larik-lariknya disusun dng memperhatikan jumlah suku kata
sajak tegak
sajak yg disusun berdasarkan letak kata-kata dl larik-larik, dan yg bersajak itu kata-kata yg terletak pd larik-larik yg berlainan
sajak tengah
sajak yg disusun berdasarkan letak kata-kata dl larik-larik, dan yg bersajak adalah kata-kata yg terdapat di tengah-tengah kalimat
sajak terbuka
sajak yg disusun berdasarkan bunyi dan sajak yg sama terdapat pd suku kata terakhir yg diakhiri oleh bunyi vokal
sajak tertutup
sajak yg disusun berdasarkan bunyi dan sajak yg sama terdapat pd suku kata terakhir yg diakhiri oleh bunyi konsonan
sajak tidak sempurna
sajak yg disusun berdasarkan bunyi yg sama pd sebagian suku akhir
sajak tiga seuntai
sajak yg terdiri atas tiga larik dl satu bait; terzina
sajak tujuh seuntai
sajak yg terdiri atas tujuh larik dl satu bait; septet

kaki sajak
dua atau tiga suku kata yg tidak bertekanan lalu diikuti oleh suku kata yg bertekanan (di dalam puisi)





Majas yang ada dalam puisi adalah :
1. Metafora, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya.
2. Metonimia, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda, atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu. 
3. Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa. 
4. Oksimoron, yaitu majas yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan.